About
Hello my name is yourname. Welcome to Bali Indigo All About Bali that will give you the ultimate feel of web design and feel free to browse around the site and make yourself at home yo!Archives
Pages
| M | T | W | T | F | S | S |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « May | ||||||
| 1 | 2 | |||||
| 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 |
| 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 |
| 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 |
| 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 |
14
May
Upacara Suci Purnama Sadha
Upacara Suci Purnama Sadha
Oleh Adang Suprapto
Purnama Kesadha (Kedua belas) bagi umat Hindu di Pengunungan Tengger, Malang, Jawa Timur. Begitu dirayakan dengan khusuk dan kidmat. Upacara persembahan sesaji ke kawah Gunung Bromo yang dikenal dengan upacara Kesodho, adalah untuk mengenang dan menghormati seorang insan manusia luar biasa yang bernama Dewa Kusuma. Demi memenuhi janji orang tuanya yang bernama Roro Anteng dan Joko Seger, Dewa Kusuma rela dicemplungkan ke kawah Gunung Bromo sebagai sesaji atau persembahan.
Kisah ini terjadi pada awal keruntuhan Kerajaan Majapahit, di mana Raja Majapahit terakhir adalah Prabhu Brawijaya. Suku Tengger berasal dari Rakyat Majapahit yang melarikan diri setelah Kerajaan Prabhu Brawijaya runtuh. Sampai saat ini mereka masih memeluk Agama Hindu dan Budha. Hingga tidak mengherankan jika Suku Tengger sering dan suka melakukan upacara persembahan berupa sesaji.
continue reading "Upacara Suci Purnama Sadha"
14
May
Sewo Gati
Pereret adalah alat musik kuno sejenis trompet yang terbuat dari bahan kayu yang dibentuk sedemikian rupa sehingga menjadi pereret. Perkembangan seni budaya masyarakat wilayah Bali Barat yaitu di daerah Kabupaten Jembrana berupa seni “Sewo Gati” yaitu berupa kesenian yang mirip kesenian Arja di Bali, hanya bedanya kalau kesenian Sewo Gati semua penarinya dalam posisi duduk. Kesenian Sewo Gati ini pementasanya sangat menarik diiringi dengan seperangkat alat musik yang salah satunya berupa Pereret.
Cara menggunakan Pereret ini adalah dengan meniup alat tersebut sehingga keluar suara yang sangat merdu dan menawan hati. Pereret ini hanya terdapat di Kabupaten Jembrana yaitu di wilayah Bali Barat, uniknya pereret bisa dipakai sebagai alat pelet atau mengguna - gunai seorang gadis sehingga gadis tersebut bisa jatuh cinta pada si pemakai Pereret tersebut. Agar pereret tersebut bisa dipakai sebagi pelet, maka terlebih dahulu pereret tersebut dipasupati (diisi kekuatan gaib) oleh Jero Balian (Dukun ) dengan cara menghaturkan sesajen sakral, yang dipersembahkan kehadapan Sanghyang Pasupati sebagai manifestasi-Nya Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa).
continue reading "Sewo Gati"
14
May
Tirta Empul
Nama Tirta Empul sudah tercantum dalam Prasasti Manukaya, berangka tahun 884 Saka atau 962 Masehi.
Prasasti ini dikeluarkan Raja Candrabhayasingha Warmadewa.
Dalam prasasti disebutkan, sang Raja Candrabhayasingha Warmadewa pada bulan keempat paro terang hari ketigabelas tahun Saka 884 telah memperbaiki permandian suci di Air Mpul yang batunya telah rusak akibat aliran air.
Air suci dalam bahasa Bali dikenal dengan sebutan tirta, karena itu Air Mpul yang dimaksud dalam prasasti itulah kini dikenal dengan nama Tirta Empul. Itu berarti Tirta Empul paling tidak sudah ada sejak abad ke-10, kurang lebih 1100 tahun silam! Sungguh luar biasa, karena fungsinya tetap tidak berubah dari zaman ke zaman.
Tirta Empul tetap sebagai kawasan suci dan sumber air suci.
Sumber air Tirta Empul inilah kemudian mengalir menjadi Tukad Pakerisan di sisi timur dan Patanu di sisi barat.
Air yang mengalir dari Tirta Empul ini dinilai suci, karenanya sampai kini masyarakat Bali di sekitar menjadikan air Tirta Empul ini sebagai air suci yang digunakan dalam upacara-upacara tertentu.
Dari satu sumber mata air Tirta Empul yang dibuatkan kolam bernama Telaga Tirta Suci ini lantas dialirkan sehingga menjadilah masing-masing Tirta Teteg, Tirta Sudamala, Tirta Pangelukatan, Tirta Pamarisuda, Tirta Pamlaspas, Tirta Panglebur Ipian Ala, Tirta Pangentas, dan Tirta Pabersihan semua semacam ruwatan di Jawa.
Masyarakat awam di Bali memahami Tirta Empul terkait dengan mitos penaklukan Raja Mayadanawa oleh Batara Indra. Konon, Raja Mayadanawa ini sangat sakti. Dia melarang rakyat Bali menghaturkan persembahan apa pun kepada para dewata, sebaliknya meminta rakyat agar memuja dirinya sebagai dewata.
Karena keangkuhannya ini para dewata di kahyangan lantas mengutus Batara Indra memerangi Mayadanawa. Tiada terhindarkan, terjadilah perang amat dahsyat antara pasukan Batara Indra melawan pengikut Mayadanawa. Setiap kali Mayadanawa terdesak dia lantas menciptakan yeh cetik (air racun). Pasukan Batara Indra tewas setiap kali meminum yeh cetik.
Guna mengalahkan yeh cetik ciptaan Mayadanawa, Batara Indra lantas menciptakan benteng membendung yeh cetik. Berikutnya, dari dalam tanah menyembullah air bening, dinamakan Tirta Empul. Konon, Tirta Empul atau air yang menyembul dari dalam tanah inilah yang dapat menghidupkan kembali bala tentara pasukan Batara Indra yang telah tewas oleh yeh cetik Mayadanawa. Di akhir kisah disebutkan, Mayadanawa pun dikalahkan Batar Indra.
Mitos yang tertuang dalam teks Usana Bali itu tentu sulit dibuktikan kebenarannya.
Namun satu hal bisa dipastikan: fungsi utama air Tirta Empul itu adalah menyucikan, membersihkan, melebur kekotoran lahir maupun batin menjadi bersih, suci, hening.
14
May
Boreh
Boreh adalah ramuan yang dibuat sebagai “lulur” yang dioleskan (Meboreh) pada bagian tubuh tertentu, membiarkannya menjadi kering ~ setelah itu me”ngurut”nya untuk membersihkan lapiran boreh yang telah mengering tersebut.
Boreh tradisional Bali:
BOREH BERAS KENCUR (boreh bass cekuh)
Boreh ini terbuat dari beras , kencur dan garam.
Boreh ini pada umumnya dibuat oleh para ibu untuk melulur putra/i nya yang terkena serangan masuk angin.
Cara pembuatannya:
bahannya direndam lalu diulek sampai hancur menjadi tepung dicampur air lalu dibalurkan.
atau
di daerah perkampungan, pada umumnya para ibu dalam membuat boreh ini melakukannya dengan cara mengunyah campuran beras dan kenceur tersebut lalu memborehkannya.
Karena tidak terlalu panas, boreh ini sangat baik digunakan untuk anak-anak dan balita
continue reading "Boreh"
14
May
Trunyan, Desa Bali Aga
WAJAH Ketut Donil menampakkan senyum ramah. Pria muda dengan tato di dada dan lengan serta betisnya ini dengan sigap mendorong perahu menjauhi tepi danau. “Bapak mau diantar ke kuburan?” ujar Donil.
Deru mesin tempel mengiringi perjalanan perahu menyibak air Danau Batur, menyusuri lereng Bukit Abang yang menjulang kokoh bak sebuah benteng istana. Di sepanjang perjalanan dari Desa Trunyan menuju lokasi kuburan, Donil dengan lancar bertutur. “Di sini ada tiga kuburan. Sema (kuburan) Wayah bagi warga yang kematiannya wajar. Letaknya paling utara. Sema Muda untuk menguburkan bayi dan anak kecil atau warga yang sudah dewasa tetapi belum menikah,” ujarnya.
Kuburan lainnya adalah Sema Bantas untuk warga yang kematiannya tidak wajar, misalnya karena kecelakaan atau karena bunuh diri. Dua kuburan pertama, Sema Wayah dan Sema Muda, letaknya agak berjauhan dengan desa, sedangkan Sema Bantas terletak di dekat Desa Trunyan.
continue reading "Trunyan, Desa Bali Aga"
14
May
Yeh Pulu
Terletak diantara kota Ubud dan objek wisata Goa Gajah, ditempat yang agak terpencil, terdapat satu situs purbakala yang dinamakan Yeh Pulu (= air yang berasal dari gentong/penanak nasi?).
Namun sayang pada saat ini mata air tersebut sudah kurang produktif, namun bagi yang mempercayainya khasiat/tuah nya tidak berkurang.
Lokasi yang terletak ditengah persawahan ini memang bernuansa sangat magis, terlebih setelah memasuki pintu gerbangnya.
Walaupun tidak terlalu luas, namun buat praktisi supranatural pancaran energi tempat ini akan sangat terasa.
continue reading "Yeh Pulu"
14
May
I Basur dan Ni Girah
Dalam budaya Bali, selain cerita Calon Arang yang mengetengahkan peran calon Arang sebagai pengguna ilmu hitam/leak yang menyebarkan petaka dan kebinasaan, lain halnya dengan cerita I Basur dan Ni Girah…
Dalam kisah ini, digambarkan bahwa I Basur, seorang dukun pangiwan yang sangat sakti tengah menebarkan teror ilmu leaknya sebagai akibat dari penolakan lamaran I Tigaron, putranya oleh Ni Sokasti, seorang bunga desa, putri I wayan Karang.
Penduduk di wilayah tersebut dilanda ketakutan dan wabah penyakit yang membuat peri kehidupan masyarakat didaerah tersebut tanpa kepastian…
continue reading "I Basur dan Ni Girah"
14
May
Agni Wairocana
Dalam babad Pasek terungkap sebuah kesaktian yang dianugerahkan oleh Ida Peranda Sakti Wau Rawuh kepada para muridnya yang terbukti sangat ampuh dan berhasil mengalahkan ilmu pengeleakan yang merajalela pada masa itu.
kesaktian pemunah Ilmu Pengelakan itu popular disebut Gni (Agni) Wairocana.
Hanya sekejap saja setelah mantak aji kesaktian ini, balatentara pengeleakan berikut panglimanya musnah terbakar hancur lebur menjadi abu.
Ajian macam apa sesungguhnya Agni Wairocana itu?
continue reading "Agni Wairocana"
14
May
Pengeleakan (Asal Usul Bali Black Magic)
Di bali ilmu tersebut dikenal masyarakat sangat luas sejak dulu, ilmu ini memang teramat sadis karena dapat membunuh manusia dalam waktu yang relatif singkat. Ilmu dapat juga menyebabkan manusia mati secara perlahan yang dapat menimbulkan penderitaan yang hebat dan berkepanjangan.
Dalam masyarakat bali khususnya yang beragama hindu dikenal dengan istilah “Rua Bineda” yaitu Rua berarti dua dan Bineda berarti berbeda yang artinya ada dua yang selalu berbeda, seperti adanya siang dan malam, ada suka dan duka, ada hidup dan mati, demikian pula dengan ilmu ini ada ilmu yang beraliran kiri disebut ilmu hutam atau Ilmu Pengeleakan dan sebagai penangkalnya ada ilmu yang beraliran kanan atau ilmu putih.
continue reading "Pengeleakan (Asal Usul Bali Black Magic)"
14
May
angerujakin, prenatal education ala Bali
Guna membentuk perwatakan agar jabang bayi kelak lahir menjadi anak yang baik (suputra) dalam ilmu kedokteran modern dikenal istilah ‘prenatal education’— pendidikan saat bayi dalam kandungan. Pasalnya, bayi sejak dalam kandungan diyakini memiliki insting dan semacam memori guna menampung berbagai pengalaman hidupnya selama dalam kandungan. Maka muncullah berbagai pantangan bagi orang hamil. Sebab dikhawatirkan apapun yang dipikirkan ataupun dilakukan ibu saat hamil akan mempengaruhi sang jabang bayi.
Prenatal education ala Bali dikenal dengan upakara angerujakin dan pagedong-gedongan. Prenatal education ala Bali ini tersurat dalam Lontar Mpu Lutuk Patiurip. Upacara angrerujakin merupakan salah satu bentuk pelaksanaan manusa yadnya untuk pembentukan janin di dalam kandungan dengan tujuan agar sang bayi memperoleh kerahayuan dan menjadi anak yang suputra. Dalam lontar Janma Prawerti ada disebutkan tentang hakikat upacara angrerujakin. Pada saat yoganya Sang Hyang Semara Ratih yang merupakan inti dari makanan dan minuman (sarining pangan kinum) itulah permata kesenangan atau kebahagiaan. Dari pertemuan kama bang dan kama petak akan menjadi manik dan masuk ke dalam rahim ibu lalu berstana di dalam kunda cucupu manik (smara tapatra) bernama Sang Hyang Manik Sri Nukir. Keberadaannya di sana hanya mengisap intinya sad rasa (sarining sad rasa). Karena itu hendaknya di bantu dengan sarana sad rasa. Itulah sebabnya dilaksanakan dengan angrerujakin (ngidam). Yang dimaksud dengan sad rasa adalah enam rasa seperti : amla (asam), ksaya (sepet), tikta (pahit), ktuka (pakeh/asin), madhura (manis), lepana (pedas).
continue reading "angerujakin, prenatal education ala Bali"